Berantas Vandalisme, Seniman di Peru Ciptakan Mural Warna-Warni Bertema Budaya

Vandalisme kerap ditemui di dinding-dinding bangunan di banyak daerah. Hobi mencoret-coret yang tidak pada tempatnya ini bukanlah seni, hingga harus ditertibkan.

Demi mengurangi tindak vandalisme, salah satu sudut daerah kumuh di kota Lima, Peru, kini dihiasi instalasi seni unik berupa tangga yang dilapisi beragam warna cerah. Proyek ini melibatkan seniman jalanan asal Peru, Xomatok, yang bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk menghias jalan-jalan dengan mural.

Mural yang digambarkan ini mencerminkan memori budaya lingkungan dan sejarah masing-masing komunitas. Dengan tujuan menyebarluaskan berbagai manifestasi budaya kota, proyek ini diadakan untuk mempromosikan dan mengakui seni sebagai bagian penting bagi pembangunan masyarakat berkelanjutan.

sumber: designboom.com

Seperti dikutip dari designboom.com, sejak tahun 2007, sang seniman telah mengeksplorasi seni urban. Ini menjadi pengalaman baginya untuk turut andil dalam mengubah wajah berbagai ruang publik dan pribadi.

Ciri khas karya Xomatok adalah mengubah ruang melalui desain, dengan menekanan pada manifestasi warna dan hubungan manusia dan lingkungan. Melalui proyek terbarunya di kota Lima, ia mencoba mememulihkan suasana di ruang publik dengan memoles warna-warna cerah.

Salah satu penelitian menemukan bahwa tanda-tanda kejahatan, perilaku anti-sosial, dan kekacauan sipil bisa memicu kerusuhan yang lebih besar. Teori ini disebut sebagai “teori jendela rusak”.

Penelitian tersebut menyiratkan bahwa area yang terpelihara dengan baik membantu mengurangi vandalisme. Untuk membantu daerah-daerah kumuh di ibu kota Peru ini, Xomatok telah banyak membuat karya seperti menggambar di dinding, tangga, dan bangunan yang ditinggalkan, dengan pilihan warna cerah.

Xomatok mengatakan bahwa seni jalanan yang diciptakannya mengundang warga untuk memiliki prespektif lain dalam membuat berbagai keputusan dalam hidup.

Dalam proyeknya kali ini, ia mengadopsi motif pada selimut khas, yang disebut llicllas, dan biasanya digunakan oleh orang-orang yang tinggal di Andes.

sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan