Desain Anti Mainstream, 5 Masjid Unik Ini Tak Memiliki Kubah

Ciri khas sebuah masjid terletak pada kubahnya. Namun, kini kehadiran kubah di atas bangunan masjid sepertinya bukan sebuah kewajiban lagi. Belakangan banyak masjid dengan desain modern sekaligus anti mainstream, dengan mengeliminasi minaret alias kubah yang identik dengan masjid dari masa silam.

Kemajuan arsitektur telah mengubah desain masjid menjadi lebih dinamis dan relevan dengan kemajuan zaman. Modern dan kontemporer adalah ciri khas masjid saat ini. Berikut lima masjid di dunia dengan desain arsitektural modern tanpa kubah, seperti dilansir kompas.com.

Masjid Al Dana, Abu Dhabi

sumber: middleeastarchitect.com

Masjid megah dan mewah bernama Al Dana ini berlokasi di Dubai, dan dirancang oleh X-Architect. Terletak di Al Dana Utara yang merupakan bagian dari pengembangan pantai Al Raha di Uni Emirat Arab (UEA), menghadap Pantai Marina. Masjid Al Dana dibangun di area seluas 2.200 meter persegi, dan tuntas konstruksinya pada 2019. Karena berada di pesisir laut, masjid ini dibangun dengan sangat hati-hati, dengan rancangan yang dibuat untuk menjaga harmoni dan lingkungan di sekitarnya.

Mengusung Konsep Kesetaraan Gender
Seperti dilansir Middleeastarchitect, Kepala Arsitek X-Architects Ahmed Al-Ali mengatakan, desain Masjid Al Dana juga mengusung konsep kesetaraan gender antara pria dan wanita.

“Masjid ini menawarkan ruang doa yang diartikulasikan dengan baik secara spasial yang unik untuk wanita dan merupakan komponen utama dari desain, bukan sebagai lampiran atau ekstensi,” kata Ahmed Al-Ali.

Desain kubah miring dari struktur bangunan masjid ini adalah untuk membangkitkan bukit pasir yang bergeser. Masjid berubah menjadi lentera pada malam hari, ketika cahaya dari interior memancarkan ke arah luar. Sementara pada siang hari, oculus yang tinggi membawa cahaya siang ke ruang angkasa, yang disorotkan ke lantai interior tergantung pada waktu. Hal itu seakan membentuk hubungan spiritual antara interior bumi dan langit surgawi.

Hemat Energi
Masjid Al Dana juga dirancang hemat energi. Elemen-elemen seperti oculi, perforasi dinding, dan filtrasi cahaya alami memastikan bangunan sejajar dengan langkah-langkah keberlanjutan. Masjid Al Dana dimaksudkan untuk melayani, baik sebagai ruang keagamaan maupun sebagai ruang publik, dengan plaza, terinspirasi oleh sahan tradisional yang berfungsi sebagai penghubung kota. Menurut arsitek senior Yazeed Obeid, proyek ini merupakan intervensi lanskap yang menghubungkan dua tingkat situs dan memudahkan pergerakan orang, menghubungkan mereka ke kawasan pejalan kaki dan laut.

Masjid Sancaklar, Turki

sumber: middleeastarchitect.com

Masjid Sancaklar merupakan struktur dengan konsep bawah tanah. Bangunan tersebut memaksimalkan ruang bawah tanah sebagai tempat beribadah. Sementara di permukaan tanah, bangunan masjid terlihat seperti hanya sekadar bebatuan bertingkat. Terletak di Buyukcekmece, Istanbul, masjid ini menjadi kebanggaan masyarakat Turki karena dinobatkan sebagai salah satu masjid terbaik di dunia untuk kategori Desain of The Year dalam ajang World Architectural Festival tahun 2013.

Desain Modern Kombinasi Batu dan Beton
Masjid Sancaklar dibangun dengan kombinasi batu berwarna abu-abu terang dengan beton cor. Dari atas, bangunan terlihat seperti gua sederhana, namun tidak terlalu menjorok ke dalam. Desain kontras antara batuan alam yang mengikuti kemiringan tanah dan pelat beton bertulang tipis membentang lebih dari 6 meter. Ruangan utama di dalam masjid memiliki lantai dengan langit yang berjenjang. Karena konsep desainnya yang unik, masjid ini dikunjungi banyak wisatawan lokal dan  mancanegara.

Butuh Waktu 3 Tahun
Masjid Sancaklar selesai dibangun pada tahun 2012. Namun masjid ini baru membuka pintunya untuk umum pada Januari 2014. Emre Arolat yang memenangi Penghargaan RIBA dalam kategori bergengsi International Excellence pada tahun 2018 ditunjuk sebagai arsiteknya. Arolat menggambarkan karyanya sebagai ruang ‘murni’ yang memungkinkan jemaah memusatkan perhatian pada hubungan mereka dengan Sang Maha Pencipta.

Masjid Sancaklar amat berbeda dengan masjid yang dibangun di era Ottoman. Sebagaimana filosofinya yang sederhana, tidak ada dekorasi yang berlebihan. Strukturnya juga mengikuti alam di sekitarnya yang berbukit dengan dua bahan utama beton dan batu. Satu-satunya hiasan interior hanyalah karpet buatan tangan perajin Turki. Strukturnya bahkan tidak memiliki eksterior. Tidak juga memiliki kubah, menara, dan balkon. Di masjid ini, pria dan wanita bisa beribadah secara berdampingan walau tetap terpisah. Konsep masjid ini mewakili sudut pandang baru; sebuah eksperimen menuju kesetaraan gender di dunia Islam yang tidak ada di tempat lain.

Masjid Valiasr, Iran

sumber: middleeastarchitect.com

Masjid Valiasr di Kota Tehran dirancang oleh firma Iran Fluid Motion Architects. Tidak seperti masjid pada umumnya, desain rumah ibadah ini menantang konsep tradisional karena mengeleminasi keberadaan kubah dan menara.

“Valiasr adalah kritik terhadap gagasan struktur otoriter vertikal masjid-masjid klasik dan mengusulkan perdamaian dan kesetaraan,” ucap Pendiri Fluid Motion Architects Reza Daneshmir dan Catherine Spiridonoff.

Menurut mereka, Valiasr merupakan masjid kontemporer pertama yang didesain dengan tata ruang berbasis horizontal. Desainnya dianggap mampu membuka pintu bagi persepsi kita tentang masjid dan bahkan desain lainnya pada era baru. Menurut laman The Guardian, bangunan ini didirikan di atas lahan seluas 3.855 meter persegi, dan mencakup tujuh lantai dengan ketinggian 32 meter. Di dalamnya terdapat ruang salat, pusat budaya, tempat tinggal imam, dan tempat parkir. Reza dan Catherine mengatakan desain masjid ini terinspirasi oleh Masjid Quba di Madinah.

“Kesederhanaan adalah fitur utama masjid pertama,” kata mereka.

Desain masjid ini juga memenangi penghargaan Middle East Architect Awards’ Cultural Project of the Year pada tahun 2018. Para juri saat itu memuji pendekatan desain yang tidak konvensional untuk arsitektur Islam.

“Masjid Valiasr adalah upaya untuk membawa struktur damai, sederhana masjid-masjid awal ke era kontemporer. Tipologi kami menghidupkan kembali gagasan Nabi yang terlupakan,” imbuh Catherine.

Masjid Agung King Abdullah Financial District (KAFD), Arab Saudi

sumber: middleeastarchitect.com

Bangunan masjid modern dan kontemporer selanjutnya adalah Masjid Agung King Abdullah Financial District (KAFD) di Riyadh, Arab Saudi. Mesjid ini terletak di pusat kota yang sarat pencakar langit di area King Abdullah Financial District.

Masjid ini dirancang dengan desain arsitektur yang unik dan memanjakan mata. Desainnya geometris dengan bentuk persis menyesupai potongan ktristal. Karena desainnya yang unik, masjid ini juga terpilih sebagai bangunan keagamaan terbaik dunia dalam ajang The World Festival Architecture Festival 2017. Luas lahannya sekitar 10.000 meter persegi dengan luas bangunan 6.000 meter persegi. Mencakup dua lantai, KAFD dirancang dengan konsep terbuka dan memaksimalkan pencahayaan alami.

Australian Islamic Centre, Australia

sumber: middleeastarchitect.com

Australian Islamic Centre di Newport, Melbourne, Australia, adalah penanda arsitektur dan sosial dari persepsi baru tentang Islam di negeri itu. Bangunan yang dirancang oleh pemenang Pritzker, Glenn Murcutt, yang bekerja sama dengan Hakan Elevli ini memadukan unsur kaca dan beton. Tak hanya itu, masjid ini juga dilengkapi dengan kolam yang membuat bangunan terlihat lebih sejuk.

Keunikan masjid ini terletak pada penanda bangunan. Laman Arhitecture AU menyebutkan, jika biasanya minaret dijadikan penanda sebuah masjid, namun arsitek menempatkan simbol bulan sabit pada salah satu sisi dinding. Sebagai pengganti kubah, bangunan ini memiliki atap datar dengan ornamen berupa lentera segitiga. Ornamen tersebut berfungsi sebagai jalan masuknya cahaya yang langsung menuju ke ruang utama.

Tinggalkan Balasan