Kenapa Bangunan Belanda Masih Kokoh Berdiri Hingga Saat Ini? Begini Penjelasannya

Tak sedikit bangunan peninggalan Belanda yang masih kokoh berdiri. Meski sudah mendapatkan renovasi, tapi bentuk bangunan dan struktur utamanya tetap dipertahankan karena tidak rusak.

Anggota Dewan Pertimbangan yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI) Davy Sukamta menjelaskan, bangunan peninggalan Belanda tampak lebih kuat karena dibangun dengan metode konservatif. Metode ini diterapkan khususnya ketika membangun gedung monumental dengan ukuran besar.

“Zaman dulu kita membangun dengan cara lebih konservatif. Dalam arti, keamanan struktur bangunan lebih tinggi,” jelas Davy.

foto: icbmilleniumtours.blogspot.com

Hal ini disebabkan karena pelaksana proyek belum mampu memprediksi dengan cermat atau ilmiah terkait struktur bangunan. Kelemahannya, metode konservatif ini lebih boros biaya. Namun, metode ini akan menghasilkan gedung dengan keandalan lebih tinggi.

“Jadi usia bangunan itu tidak hanya 50 tahun. Di Jakarta ada yang sudah ratusan tahun, bahkan di Eropa ada yang ribuan tahun,” tambah Davy.

Tak hanya itu, material konstruksi pada zaman dulu juga lebih terkendali dan terjaga kualitasnya. Sementara saat ini, mengingat kebutuhan akan bahan bangunan semakin besar, tak sedikit produsen menjadi lebih sembarangan.

Di sisi lain, ketebalan dinding bangunan modern kurang lebih hanya 15 sentimeter. Sementara, dinding bangunan peninggalan Belanda bisa mencapai 80-100 sentimeter.

Dahulu dinding berfungsi sebagai struktur utama, sementara saat ini, ada kerangka struktur yang umumnya berupa konstruksi beton, sehingga dinding hanya sebagai kulit atau penyekat ruang.

Agar dapat memenuhi pengerjaan konstruksi beton dengan baik, pekerja bangunan harus memiliki pemahaman, keahlian, dan terlatih.

“Saat ini kondisinya belum seperti itu. Masih banyak tukang tidak terlatih ikut bekerja,” tutup Davy.

sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan