Kota Pusat Teknologi, Shenzhen Alami Krisis Properti. Kok Bisa?

Shenzhen merupakan kota pusat teknologi yang termasuk salah satu pasar properti terlaris di dunia. Meski begitu, Shenzhen ternyata tengah mengalami krisis.

Agen real estat di Shenzhen, Jerry Tang, mengatakan bahwa ia telah bergelut di dunia properti sejak tahun 2014. Tang mampu memperoleh penghasilan hingga 50.000 Yuan setiap bulan, atau setara dengan Rp 112,2 juta.

Namun, penghasilannya tercatat turun menjadi sekitar 15.000 Yuan atau sekitar  Rp 33,6 juta pada tahun lalu, dan kembali turun tahun ini menjadi sekitar 5.000 Yuan atau Rp 11,2 juta per bulan.

sumber: globaltimes.cn

“Jelas jauh lebih sulit untuk menjual tahun ini,” ujar Tang.

Penyebabnya adalah saat ini pembeli masih menunggu untuk melihat kondisi pasar properti China yang masih bermasalah, sementara para developer berada pada kondisi kekurangan uang. Selain itu, beberapa kantor makelar juga telah ditutup.

Setidaknya, sepertiga dari delapan agen real estat telah meninggalkan industri properti dan sebagian yang lain sedang memikirkannya. Terkait dengan hal itu, Lianjia, makelar tanah juga berencana untuk menutup seperlima atau sekitar seratus kantornya di Shenzhen.

Adapun krisis di pasar properti Shenzhen berasal dari kebijakan yang dibentuk dalam satu tahun terakhir untuk membuat harga apartemen menjadi lebih terjangkau, seperti kewajiban membayar uang muka yang lebih tinggi untuk kepemilikan rumah kedua, serta membatasi harga jual kembali.

Kendati demikian, agen real estat mengatakan hal ini bisa terjadi karena adanya krisis kepercayaan yang sedang melanda industri properti di China saat ini. Akibatnya, Evergrande Group dan Kaisa Group Holdings, yang kantor keduanya berada di Shenzhen, mengalami krisis likuiditas.

dilansir dari: kompas.com

Tinggalkan Balasan