KPR DP 0% Tak Berjalan Efektif, Ada Uang Muka Lebih Baik?

Bisnis.com, JAKARTA – Kebijakan uang muka (down payment/DP) 0 persen untuk kredit pemilikan rumah/apartemen (KPR/KPA) belum sepenuhnya berjalan efektif, menurut Managing Director Sinar Mas Land Alim Gunadi.

Dia mengemukakan kondisi di lapangan menunjukkan hal itu disebabkan bank harus menentukan tingkat risiko setiap debitur. Bahkan, dia menilai adanya uang muka justru lebih baik, karena menyaring debitur dengan kemampuan finansial karena cicilan KPR yang bisa mengikat komitmen hingga 20 tahun.

“DP 0 persen ini mungkin patokannya di track record gaji di bank tersebut bagus, tapi kan kita tidak tahu sebenarnya orang ini punya kemampuan finansial seperti apa. Kalau ada DP jelas bisa tahu kemampuan finansialnya,” tuturnya.

sumber: propertyguru.com.my

Sebelumnya, pengembang mengungkapkan seretnya persetujuan kredit pemilikan rumah (KPR) dari perbankan terutama pada masa pandemi Covid-19. DP 0 persen juga membuat seluruh risiko ditanggung perbankan dan itu membuat bankir meningkatkan kehati-hatian untuk menyetujui KPR DP 0 persen.

Meskipun ada banyak stimulus dari regulator, lanjutnya, namun ekonomi masyarakat terdampak akibat penyesuaian gaji perusahaan di masa pandemi, sehingga berdampak pada pembelian rumah.

“Jadi, ini masalahnya kompleks, daya belinya ada enggak? Ini berdampak juga, karena kebanyakan pembelinya end user atau buyers ini bergantung terhadap gaji,” kata Alim.

Sementara itu, Asisten Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia (BI) Dhaha P. Kuantan menuturkan, sebagian bank saat ini telah melakukan penyesuaian DP nol persen, khususnya pada debitur tertentu yang memiliki kualifikasi baik.

Menurut Dhaha, saat ini relaksasi dan kebijakan mengenai properti telah menunjukkan dampaknya di pengajuan KPR. Dia mengutarakan, aplikasi KPR di bank-bank BUMN meningkat cukup signifikan.

KPR Mandiri tumbuh 8,6 persen mtm pada Maret 2021, KPR BRI tumbuh 6,5 persen mtm, di BCA telah terdapat 3.000 aplikasi KPR pada April. Namun, dia mengakui bahwa untuk aplikasi KPR baru di bank-bank kecil, belum menunjukkan respons yang baik.

Tren kredit properti tetap positif di tengah pertumbuhan kredit yang masih lambat. Menurutnya, perbankan memang masih perlu melakukan penyesuaian terkait suku bunga. Pasalnya, sejak penurunan suku bunga acuan BI 7 Day Repo Rate, suku bunga dasar kredit (SBDK) telah turun 200 bps.

“Harga KPR telah turun 100 bps pada Maret 2020, sedangkan untuk KPR baru telah turun sebesar 80 bps. Bank butuh waktu untuk penyesuaian SBDK dulu dan harapannya ke depan akan lebih turun lagi untuk mendorong permintaan properti,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan