Pembangunan Rumah Sementara Korban Bencana Badai Seroja Cuma Butuh Waktu 20 Menit, Begini Penampakannya

KUPANG, KOMPAS.com – Yayasan Wahana Bakti Sejahtera Semarang (YWBS) menawarkan konsep hunian sementara bagi warga terdampak bencana Badai Seroja di Nusa Tenggara Timur (NTT). Ketua YWBS Budi Laksono mengatakan, hunian sementara itu dibangun dengan waktu sekitar 20 menit dan anggaran Rp 4 juta.

“Ini konsep kita yang pernah diterapkan saat bencana di Aceh, Palu, dan Lombok. Semuanya digunakan warga yang saat itu mengungsi akibat rumahnya hancur,” kata Budi kepada sejumlah wartawan di Kupang.

Menurut Budi, YWBS telah membangun empat rumah tersebut di Kecamatan Takari, Kabupaten Kuoang, untuk warga terdampak Badai Seroja.

sumber: kompas.com

Rumah sementara yang telah dibangun di Lombok, Palu, dan Aceh biayanya hanya Rp 2 juta karena material bangunannya menggunakan kayu. Sedangkan, rumah sementara yang dibangun di Kupang biayanya sekitar Rp 4 juta karena materialnya banyak menggunakan baja ringan.

Budi yang merupakan dosen Pasca Sarjana Universitas Diponegoro Semarang dan juga praktisi bencana itu menuturkan, selain dibangun cepat, rumah sementara ini juga bisa dipindahkan ke lokasi berbeda. Proses pemindahan rumah pun berlangsung sangat cepat karena hanya membutuhkan waktu 11 menit.

“Tentu setiap keluarga ingin mendapatkan hunian sementara secepat mungkin. Karena kalau membangun hunian tetap, akan membutuhkan waktu lama sehingga hunian sementara ini menjadi solusi,” kata Budi.

Hunian sementara ini dibangun dengan teknologi konstruksi sederhana yang terinspirasi dari desain arsitektur Jawa Barat. Ada sudut kemiringan, namun asalkan seimbang dan dapat dimanfaatkan, aman untuk dihuni warga terdampak bencana.

Hunian sementara ini berukuran tiga kali empat meter dengan material kayu, dan baja ringan. Sedangkan untuk atap, menggunakan seng atau terpal.

Selain itu, bangunan ini tahan gempa karena memanfaatkan jangkar besi dan diikat, sehingga ketika ditiup angin tidak mudah bergeser. Rumah ini juga bisa dilipat karena dinding berupa lipatan sehingga ketika sudah ada rumah permanen maka bisa dilipat dan disimpan.

“Kami juga menyarankan, kalau bisa pembangunan hunian semetara ini menggunakan tukang lokal termasuk pemilik rumah, karena mereka adalah korban sekaligus perlu uang sehingga kami latih orang lokal untuk membangun rumah ini,” jelasnya.

Dia mengatakan, sejak awal membangun konsep hunian sementara, pihaknya sudah registrasi hak paten di Kementerian Hukum dan HAM. Budi berharap, konsep pembangunan hunian sementara dengan mudah, murah, dan cepat dalam konteks kebencanaan ini bisa diadopsi oleh pemerintah.

Tinggalkan Balasan