Prediksi 2023, Industri Properti Indonesia Tak Terlalu Terdampak Resesi

Industri properti diprediksi akan tetap tangguh menghadapi ancaman perlambatan atau resesi ekonomi tahun 2023 mendatang. Hal ini terangkum dalam Indonesia Property Market Outlook & Real Estate Trend 2023 yang menghadirkan stakeholder industri properti dari REI, pengembang, ekonom, dan portal teknologi properti.

Terdapat sejumlah hal yang bisa menciptakan keyakinan bahwa dampak resesi terhadap Indonesia tidak akan seburuk yang dikhawatirkan dan diperkirakan tidak akan lebih parah jika dibandingkan dengan dampak pandemi selama dua tahun ke belakang.

Begitu juga dengan semakin dekatnya Pemilu 2024 akan membuat tahun 2023 tidak lepas dari memanasnya suhu politik. Namun, sektor properti sebagai kebutuhan primer masyarakat selama ini terbukti sebagai sektor yang tangguh.

foto: allianz.co.id

Country Manager rumah.com Marine Novita melihat histori dari tahun-tahun Pemilu sebelumnya, laju penyaluran kredit hunian relatif resilient. Pada tahun 2014 dan 2019 misalnya, laju penyaluran kredit hunian masih bisa tumbuh lebih baik dibanding kredit secara keseluruhan.

“Di tengah pandemi mulai 2020 dan juga 2021, penyaluran kredit hunian masih bisa tumbuh, bahkan ketika kredit secara keseluruhan sempat turun,” ujar Marine.

Hunian adalah kebutuhan dasar, namun sebanyak 12,75 juta keluarga masih belum memiliki rumah (angka backlog berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional BPS). Dari sisi piramida penduduk pun, sebanyak 88 juta jiwa atau 40 persen dari total jumlah penduduk Indonesia berada pada usia 20-44 tahun.

“Ini adalah rentang usia yang menjadi target pasar sektor properti hunian. Ini artinya, peluang pada pasar properti masih tetap dinamis dan resilient,” kata Marine.

Hal senada dikemukakan Pengamat Ekonomi INDEF Aviliani. Menurutnya, usai pandemi Covid-19, mobilitas masyarakat kembali normal dan mendorong kenaikan tingkat konsumsi hingga lima persen dari total PDB Nasional.

Jika momentum ini bisa dijaga, tahun depan yang terjadi adalah bukan resesi, melainkan pelemahan ekonomi.

Aviliani meyakini, faktor demografi sangat menguntungkan ekonomi Indonesia yang didominasi usia produktif hingga 2035.

“Setelah itu, pemerintah harus berstrategi agar tidak mengalami masa aging seperti Jepang dan Amerika. China sudah mulai, dengan tunjangan dua anak. Mereka takut generasi tua semua, ekonomi pun turun,” cetus Aviliani.

Sementara Managing Director Ciputra Group Budiarsa Sastrawinata memastikan, pelaku industri properti Indonesia tak perlu khawatir berlebihan.

“Jangan ditakut-takuti. Kita pernah melewati krisis dahsyat sebanyak tiga kali. Pertama tahun 1998 yang membuat suku bunga tinggi sampai 18 persen. Kemudian krisis finansial global tahun 2008, dan kemudian pandemi Covid-19. Toh, kita mampu bertahan, dan terus berproduksi,” tutur Budiarsa.

Budiarsa optimistis, para pengembang bisa menghadapi tahun 2023 dengan mulus jika mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.

Misalnya, merancang produk properti yang sesuai dengan kebutuhan pasar, desainnya inovatif, ramah lingkungan, dan mengikuti tren kekinian seperti digitalisasi, pembiayaan inklusif, dan lain sebagainya.

sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan