Rumah Sehat Jadi Tren Properti selama Pandemi Covid-19

Liputan6.com, Jakarta – Pemerintah menerapkan kebijakan bekerja di rumah atau work from home (WFH) selama pandemi Covid-19. Tak hanya itu, kegiatan lainnya seperti sekolah, beribadah juga dianjurkan untuk dilakukan di rumah. Alhasil, rumah sehat menjadi tren baru di industri properti selama pandemi.

Ketua Umum Real Estate Indonesia (REI) Totok Lusida menuturkan, tren permukiman saat ini dan ke depan membutuhkan lebih banyak ruang terbuka. Fasilitas di kawasan permukiman juga dibentuk selengkap mungkin.

“Selain itu, rumah kini dimanfaatkan untuk bekerja, belajar, beribadah dan beribadah. Pada titik ini, desain rumah semakin memperhatikan sirkulasi udara dan pencahayaan,” ujar Totok dalam webinar Rumah Sehat Sebagai Kebutuhan Gaya Hidup yang digelar Jurnalis Peduli Kesehatan Masyarakat (JPKM), Kamis (18/2/2021).

sumber: healthyhomes.ces.ncsu.edu

Selain menggelar webinar, JPKM melakukan kegiatan dua bedah rumah masing-masing di Rawa Mekar Jaya, Serpong, Tangerang Selatan dan Serpong, Tangerang Selatan.

Totok melanjutkan, sektor perumahan masih bisa tumbuh 2,3 persen tahun lalu. Padahal, ekonomi nasional terpangkas 2,07 persen, akibat pandemi Covid-19.

Meski begitu, dia menuturkan, pandemi Covid-19 menghantam hebat sejumlah subsektor properti. Dia mencatat, kinerja mal ambles 85 persen, okupansi hotel turun 95 persen, perkantoran turun 74 persen, dan rumah komersial turun 50-80 persen. Akan tetapi, rumah subsidi masih bertahan selama pandemi.

Dia menegaskan, ada beberapa risiko dan tantangan sektor properti tahun ini. Pertama, pandemi Covid-19 tidak tertangani sampai akhir tahun dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) terus berlanjut. Kemudian, resesi ekonomi dan PHK 5–30% dari pekerja formal, lalu implementasi UU Cipta Kerja tidak probisnis, serta perubahan gaya hidup konsumen.

Adapun peluang sektor properti tahun ini, kata dia, datang dari vaksin gratis untuk seluruh penduduk Indonesia, kenaikan anggaran infrastruktur 47% menjadi Rp 414 triliun, penurunan suku bunga BI7DRR 3,75%, penurunan suku bunga KPR/KPA, kenaikan kredit properti, anggaran FLPP MBR meningkat, dan relaksasi properti menengah atas (PPnBM, LTV rumah kedua).

Selanjutnya, dia menuturkan, pemulihan daya beli pembeli dan investor, pasokan klaster baru, UU Cipta Kerja probisnis, proyek ibu kota baru Rp 446 triliun.

“Pengembang yang bertahan adalah yang bereputasi baik, punya land bank matang, keragaman produk, punya recurring income, dan menjalin kolaborasi,” tegas dia.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat M. Hidayat menuturkan, rumah merupakan sarana awal pembangunan sumber daya manusia (SDM) unggul. Ini sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo 2020-2024.

Seiring dengan itu, dia menuturkan, pemerintah tetap melanjutkan program sejuta rumah di era normal baru. Desain rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) kini menyesuaikan protokol kesehatan penanganan Covid-19, mengakomodasi kebijakan social distancing (penataan ruang), desain sirkulasi udara yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan