Sudah Bergulir Sejak 1988, Dugaan Praktik Kejahatan Mafia Tanah Ini Mirip Kasus Nirina Zubir

Sebuah keluarga di Bandung, Jawa Barat, dikabarkan menjadi korban dugaan praktik kejahatan mafia tanah yang modusnya mirip seperti yang dialami oleh keluarga Nirina Zubir. Seorang wanita bernama Jolie Agustina Tiono mengaku bahwa dirinya dan lima orang saudaranya tiba-tiba kehilangan 3.050 meter persegi tanah di Kelurahan Jajar Tunggal, Kecamatan Wiyung, Surabaya.

Saat ditemui di Bandung, Jolie menerangkan bahwa sertifikat tanah itu tiba-tiba berganti nama menjadi atas nama orang lain berinisial BST. Keluarga Jolie mengajukan gugatan atas BST pada 1988. 

“Padahal kami tidak pernah menjual tanah peninggalan ayah kami pada BST. Tiba-tiba saat itu kami mendapat pemberitahuan bahwa tanah itu sudah dibeli oleh BST,” kata Jolie.

sumber: jabar.tribunnews.com

Tanah itu memang diakuinya tidak ditinggali oleh para ahli waris, termasuk Jolie. Ayahnya membeli tanah di Surabaya itu pada 1961, dan keluarga pemilik tanah sebelumnya yang menempatinya. 

“Jadi salah satu keluarga pemilik tanah sebelumnya bernama Dewi Asma,” ujarnya.

Tapi pada 1988 itu, Dewi Asma mendapat informasi bahwa tanah itu dibeli BST yang turut tinggal di rumah tersebut.  Padahal, Dewi maupun keluarga lainnya bukan lagi pemilik tanah tersebut.

“Akhirnya kami menggugat hal ini ke Pengadilan Negeri Surabaya pada 2017 dengan putusan tidak diterima,” kata dia.

Pada 2018, pihaknya mengajukan lagi gugatan tersebut ke Pengadilan Negeri Surabaya. Di persidangan, kata Jolie, Dewi Asma hadir dan mengaku tidak pernah menjual tanah tersebut ke BST. Selain itu, Dewi Asma juga mengakui dan membenarkan tanahnya itu dijual pada keluarga Jolie. 

“Dia mengakui hanya penghuni yang diberi izin kakak saya pada tahun 1985 untuk menggunakan tanah itu. Jadi, bukan sebagai pemilik,” kata dia.

Data BPN Surabaya bahkan menyebut bahwa wajib pajak atas tanah itu bernama ayah Jolie. Hanya saja, di putusan akhir persidangan, majelis hakim mengabulkan gugatan keluarga Jolie.

Tak terima atas putusan tersebut, BST mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi. Di persidangan tingkat banding, BST membawa bukti berupa akta jual beli dan akta notaris dengan Dewi Asma, namun Jolie meragukan keasilannya. 

“Tapi aneh, dalam banding di pengadilan tinggi itu Bambang Sugihartono Tandya menang, padahal semua alat buktinya palsu,” ujarnya.

Selain tidak pernah menjual, Dewi Asma pun mengaku tidak mengenal BST.

“Itu sudah keterangan di pengadilan, Dewi Asma mengaku tidak pernah memiliki tanah, tidak pernah menjual tanah, dan tidak mengenal Bambang Sugihartono Tandya,” kata dia.

Sebagai contoh, dalam akta jual beli antara BST dengan Dewi Asma, keduanya dengan objek tanah yang dijual memiliki alamat yang sama.

“Penjual alamatnya di situ, pembeli alamatnya di situ. Jadi, semua alamatnya sama dengan objek tanah yang dijual,” kata dia.

Tak terima, keluarga Jolie mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung. Hasilnya, gugatannya dimentahkan. 

“Atas kejadian ini, saya meminta keadilan dari Pak Presiden Joko Widodo. Sebagai program beliau, tolong berantas mafia tanah dan kembalikan hak-hak kami atas tanah hasil pembelian ayah kami,” kata dia.

Di tempat yang sama, kuasa hukum Jolie dan ahli waris lainnya, Ari Saragih, mengatakan bahwa pihaknya akan mengajukan peninjauan kembali atas putusan Mahkamah Agung tersebut.

“PK sudah diajukan bulan Oktober kemarin,” kata dia.

Pihaknya berharap pemerintah komitmen dalam memberantas mafia tanah dan peradilan.

“Tidak ada satupun ahli waris yang melepaskan hak ahli waris. Tidak ada ahli waris yang pernah melepas haknya. Saya minta perhatian sesuai program Pak Presiden yang akan memberantas mafia tanah dan peradilan,” kata dia.

dilansir dari: jabar.tribunnews.com

Tinggalkan Balasan