Sukses Miliki Gerai Furnitur di Seluruh Dunia, Ternyata Dulu IKEA Jualan Pulpen

IKEA saat ini dikenal sebagai salah satu produsen furnitur paling terkemuka, dengan gerai yang tersebar di lebih dari 50 negara di seluruh dunia. Namun di balik kesuksesan itu, ada awal kisah yang menarik dari bisnis IKEA yang ternyata dimulai dengan berjualan pulpen impor.

IKEA resmi terdaftar pada tanggal 28 Juli 1943. Nama resmi perusahaan yang bermarkas di Swedia itu adalah Ingvar Kamprad Elmtaryd Agunnaryd.

Ingvar Kamprad merupakan nama pemiliknya, yang disingkat IK. Elmtaryd (E) adalah pertanian tempat Ingvar tinggal yakni, dan Agunnaryd (A) adalah paroki tempatnya berasal. Sehingga, perusahaan tersebut dikenal sebagai IKEA.

foto: thetimes.co.uk

Ingvar mulai tertarik pada dunia bisnis saat duduk di bangku sekolah menengah kejuruan bisnis di Gothenburg. Ia mengikuti salah satu kelas yang membahas tentang manajemen ilmiah dalam bisnis, atau yang dikenal sebagai Taylorisme.

Untuk memenuhi rasa ingin tahunya, Ingvar pun kerap menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah. Saat itu pula, ia membaca iklan ekspor dan impor di koran perdagangan. Hal itulah yang mengobarkan semangat jiwa berbisnisnya, sehingga ia memutuskan untuk mengimpor barang dari luar negeri.

Ingvar lalu menulis beberapa surat ke beberapa produsen yang berbeda di luar negeri dan serius mengejar mimpinya itu. Ia menjual beberapa barang seperti kartu Natal, benih, pulpen, dompet, stoking nilon, dan perhiasan. Bahkan, ia mencoba mengimpor sepatu dan korek api dari Swiss.

Setelah lulus dari sekolah menengah di Gothenbur, Ingvar bekerja sebentar sebagai pegawai kantor, dan kemudian melakukan wajib militer di Vaxjo, Swedia selatan.

Di waktu yang bersamaan, usahanya mulai berkembang. Untuk menjalankan bisnis selama wajib militer, ia memutuskan mengambil cuti malam agar bisa bekerja dari kantor sewaan di kota.

Ingvar akhirnya berhasil menjadi agen resmi di Swedia untuk produk pulpen asal Perancis, Evergood. Meskipun barang impor, Ingvar memasang harga jual yang tetap terjangkau sehingga pulpennya menarik minat banyak kalangan.

Namun sayannya, dalam perjalanan berbisnis pulpen, ia mengalami kerugian besar, bahkan terkendala masalah izin impor. Ingvar lalu  memutuskan untuk menghentikan usaha impornya dan mulai bekerja sama dengan pemasok lokal untuk memproduksi pulpen sendiri. Namun, ia hanya berhasil menjual 300 set pulpen.

Pada akhir tahun 1940-an, Ingvar menemukan bahwa saingan utamanya, pabrik Gunnar di Alvesta, telah sukses menjual furnitur. Pada titik ini, Ingvar menyadari bahwa masa depannya tidak terletak pada penjualan pulpen, tapi furnitur.

Dalam memulai usaha furnitur lewat perusahaannya, IKEA, ia berfokus pada layanan bisnis yang optimal.

Keputusan Ingvar ternyata berbuah manis. Kini IKEA dikenal sebagai salah satu toko furnitur terbaik di dunia dan paling banyak digunakan dalam industri ritel serta rumah tangga.

sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan