Viral Postingan Ibu Rumah Tangga Bisa Nyicil Rumah dengan Pendapatan Rp 2,7 Juta Per Bulan

Seorang ibu rumah tangga bernama Feti Ira menjadi inspirasi setelah unggahannya di Instagram viral. Wanita asal Pekalongan, Jawa Tengah, itu membuat posting lewat akunnya, @feti_ira36, tentang rincian pengelolaan uang rumah tangga dalam sebulan.

Dengan total pendapatan suami dan istri per bulan Rp 2,7 juta, kebutuhan rumah tangganya bisa tercukupi. Ia bisa membayar biaya sekolah anak, listrik, belanja kebutuhan pokok, jajan, menabung, bahkan bisa mencicil rumah dan juga bersedekah.

Dengan total pendapatan tersebut, Feti bisa mengelola uang untuk angsuran rumah KPR sekitar Rp 850.000 per bulan, yang mungkin tidak semua keluarga atau ibu rumah tangga bisa melakukannya. Sementara, banyak yang memilih kontrak atau sewa rumah daripada membeli rumah meskipun ada subsidi KPR dari pemerintah.

sumber: instagram.com/feti_ira36

“Aku ambil KPR-nya yang 15 tahun. Dan alhamdulillah, ini sudah memasuki tahun ke-tujuh,” ujar Feti dalam akun Youtube-nya.

Feti menuturkan, sedari awal menikah memang mengambil KPR yang masuk kategori subsidi dengan harga kurang dari Rp 180 juta.

“Dulu sebenarnya DP rumah sekitar 30 persen sisanya diangsur, namun dulu saya lebihkan jadi sekitar 40 persen,” imbuhnya.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan (PPDPP) Arief Sabaruddin mengatakan, meski tidak mengikuti cerita dari ibu rumah tangga tersebut, namun KPR yang diambil adalah subsidi Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

“Dengan KPR FLPP berbunga tetap 5 persen, untuk tenor maksimal 20 tahun sangat memungkinkan untuk angsuran sekitar Rp 800.000 sampai dengan Rp 900.000 per bulan,” kata Arief.

Selain KPR FLPP, jenis KPR Subsidi Selisih Bunga (SSB) juga memungkinkan untuk mendapatkan biaya angsuran pada kisaran tersebut. Sebab, baik FLPP maupun SSB diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

“Subsidi selisih bunga (SSB) juga sama bunga 5 persen, selisih dengan bunga pasar dibayar pemerintah,” terangnya.

Lantas dengan nilai angsuran sebesar itu, masyarakat mendapatkan rumah seharga berapa, Arief menambahkan harga maksimum mengikuti ketentuan pemerintah.

“(misalnya) Saat ini untuk Botabek (Bogor, Tangerang, Bekasi) harga rumah tidak boleh lebih dari Rp 168 juta,” imbuhnya.

Dengan kisah dari ibu rumah tangga ini, dia berpesan bahwa tidak semua masyarakat mendapat kesempatan memiliki rumah subsidi, karena adanya keterbatasan fiskal pemerintah.

“Mohon untuk pemilik rumah dengan bantuan subsidi FLPP agar betul-betul memanfaatkannya untuk kebaikan keluarga dengan cara dihuni dan dimanfaatkan,” pungkasnya.

dilansir dari: kompas.com

Tinggalkan Balasan