Benarkah Tukang Bangunan yang Bagus Itu Pasti Orang Jawa?

Banyak yang percaya, jika ingin membangun rumah sebaiknya menggunakan tukang bangunan yang berasal dari suku Jawa. Katanya, tukang bangunan ataupun tenaga konstruksi yang paling bagus adalah orang Jawa. Benarkah??

Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Taufik Widyono mengatakan, tenaga kerja konstruksi atau tukang bangunan di Indonesia saat ini memang banyak berasal dari Pulau Jawa.

“Mayoritas tenaga kerja konstruksi kita saat ini memang berasal dari Pulau Jawa,” kata Taufik.

foto: binamarga.pu.go.id

Bahkan, dia menyebut bahwa di sejumlah wilayah Pulau Jawa terdapat kampung tukang bangunan yang memiliki keahlian dan spesialisasi beragam. Misalnya, tukang bangunan asli Yogyakarta memiliki keahlian ukur dan ukir, di Wonosobo dan Wonogiri banyak ahli batu, di Sumedang dan Priangan Timur banyak ahli pasang keramik, dan lain-lain.

Meski begitu, spesialisasi atau keahlian tenaga kerja konstruksi pada dasarnya tidak ditentukan berdasarkan suku.

“Bukan ditentukan berdasarkan suku, tapi lebih kepada pekerjaan yang mereka biasa lakukan sehingga membuat mereka terlatih,” katanya.

Taufik menilai, biasanya tenaga kerja konstruksi lulusan SD tidak memiliki keahlian khusus, melainkan bisa melakukan berbagai pekerjaan. Hal itu berbeda dengan tenaga kerja konstruksi setingkat S1 yang umumnya memiliki level keahlian tertentu.

“Kelompok spesialis pekerjaan biasanya muncul karena hubungan sosial, untuk mengajak orang yang dikenal dari kampung tempat tinggalnya,” ujarnya.

Semakin banyaknya jumlah tenaga kerja konstruksi asal Jawa ini terjadi secara turun temurun hinga saat ini. Biasanya, sebagian besar dari mereka memang hidup dan tinggal di dalam komunitas yang juga merupakan pekerja konstruksi. Banyaknya tenaga kerja konstruksi asal Jawa yang mengerjakan proyek pembangunan di berbagai daerah saat ini juga berasal dari komunitas primordial tersebut.

“Mereka dibawa oleh lingkungannya. Sama seperti komunitas tukang cukur, mesti dari Garut. Hal inilah yang terbentuk dari komunitas warga tersebut,” ungkap Taufik.

sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan