Hati-Hati ‘Jebakan Batman’ Beli Rumah DP 0%

detikFinance, Jakarta – Bank Indonesia (BI) menebar relaksasi, salah satunya melonggarkan aturan loan to value (LTV) atau financing to value (FTV) untuk pembelian properti. DP untuk KPR per 1 Maret 2021 bisa hanya 0%.

Namun, belum banyak bank yang menerapkan fasilitas tersebut. Meski BI memberikan syarat hanya bank dengan rasio kredit bermasalah (NPL) di bawah 5% yang boleh melakukannya, para bank juga masih berpikir panjang.

Menurut Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, dari sisi masyarakat selaku konsumen seharusnya juga berpikir kritis sebelum mengajukan fasilitas DP 0% itu. Sebab dengan tidak adanya uang muka, sebenarnya beban yang ditanggung dalam cicilan ke depannya akan lebih besar.

sumber: lowermybills.com

“Karena sebenarnya beban per bulan jadi lebih berat,” ucapnya kepada detikcom.

Dikutip dari Lifepal, disebutkan untuk program DP 0% ini masyarakat juga harus berhati-hati. Pasalnya, dengan DP 0% maka pokok utang akan semakin besar dan akan berdampak pada tidak idealnya jumlah cicilan setiap bulan.

Selain itu, yang harus diperhatikan adalah kekayaan bersih dan jumlah utang tertunggak yang dimiliki setelah kredit properti ini disetujui.

Sementara, perencana keuangan senior Aidil Akbar mengatakan, meski sudah ada DP KPR 0% bukan berarti menjadi saatnya untuk beli rumah. Malah dia menyarankan bagi yang sama sekali belum merencanakan beli rumah dari jauh-jauh hari untuk tidak melirik program ini.

Aidil menjelaskan, memang DP KPR 0% memudahkan masyarakat memiliki rumah. Masyarakat tak perlu lagi menabung lama untuk membayar DP rumah, namun menurutnya program ini berpotensi membuat cicilan menjadi bengkak.

“Menurut saya masyarakat mesti hati-hati jangan sampai terjebak dengan DP 0%. Kalau memang belum ada rencana beli rumah jauh-jauh hari jangan langsung tergiur deh, karena ini kan berpotensi menambah cicilan rumah,” ucapnya.

Aidil memaparkan, DP KPR 0% hanya memindahkan beban biaya DP di awal untuk masuk ke dalam cicilan. Misalnya saja, membeli rumah seharga Rp 100 juta biasanya harus membayar DP 30%, maka sisa utang yang harus dibayarkan hanya Rp 70 juta saja.

Tinggalkan Balasan