Jangan Asal Tancap Patok, Begini Aturan Memasang Tanda Batas Tanah

Pemasangan patok tanah sangat penting untuk memberi tanda dan menjaga batas tanah yang dimiliki. Namun, dalam memasang patok tidak bisa sembarangan alias asal tancap, termasuk soal ukuran patok yang sesuai.

Ukuran patok tanah sendiri harus disesuaikan dengan bahan atau material yang digunakan. Setiap bahan memiliki ukuran yang berbeda-beda.

Dalam Peraturan Menteri ATR/Kepala BPN No. 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan PP No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah, pada Pasal 22 disebutkan bahwa untuk bidang tanah yang luasnya kurang dari 10 hektar, dipergunakan tanda-tanda batas sebagai berikut:

foto: olx.co.id
  • Pipa besi atau batang besi, panjang sekurang-kurangnya 100 cm dan bergaris tengah 5 cm. Kemudian, dimasukkan ke dalam tanah 80 cm. Selebihnya 20 cm diberi tutup dan dicat merah.
  • Pipa paralon yang diisi dengan beton (pasir campur kerikil dan semen), panjang sekurang-kurangnya 100 cm dan bergaris tengah 5 cm. Lalu, dimasukkan ke dalam tanah 80 cm dan selebihnya 20 cm dicat merah.
  • Kayu besi, bengkirai, jati, dan kayu lainnya yang kuat dengan panjang sekurang-kurangnya 100 cm dengan lebar kayu 7,5 cm. Kemudian, dimasukkan ke dalam tanah 80 cm dan selebihnya 20 cm di permukaan bercat merah.
  • Khusus untuk daerah rawa, panjang kayu sekurang-kurangnya 1,5 meter dan lebar 10 cm. Lalu dimasukkan ke dalam tanah 1 meter, sedangkan sisanya yang muncul di permukaan dicat merah. Kira-kira 0,2 meter dari ujung bawah, terlebih dulu dipasang dua potong kayu sejenis dengan ukuran sekurang-kurangnya 0,05 meter x 0,05 meter x 0,70 meter berbentuk salib.
  • Tugu dari batu bata atau batako yang dilapis dengan semen yang besarnya sekurang kurangnya 0,20 meter x 0,20 meter dan tinggi 0,40 meter yang setengahnya dimasukkan ke dalam tanah.
  • Tugu dari beton, batu kali, atau granit dipahat sekurang-kurangnya sebesar 0,10 meter2 dan panjang 0,50 meter. Lalu 0,40 meter dimasukkan ke dalam tanah, dengan ketentuan bahwa apabila tanda batas itu terbuat dari beton, di tengah-tengahnya dipasang paku atau besi.

Sementara, untuk bidang tanah yang luasnya lebih dari 10 hektar, dipergunakan tanda-tanda batas sebagai berikut:

  • Pipa besi panjang sekurang-kurangnya 1,5 meter bergaris tengah sekurang-kurangnya 10 cm. Kemudian dimasukkan ke dalam tanah 1 meter dan selebihnya diberi tutup besi dan dicat merah.
  • Besi balok dengan panjang sekurang-kurangnya 1,5 meter dan lebar sekurang-kurangnya 10 cm. Lalu, dimasukkan ke dalam tanah 1 meter dan pada bagian yang muncul di atas tanah dicat merah.
  • Kayu besi, bengkirai, jati, dan kayu lainnya yang kuat dengan panjang sekurang-kurangnya 1,5 meter dengan lebar kayu 10 cm. Dimasukkan ke dalam tanah 1 meter dan sekitar 20 cm dari ujung bawah, dipasang 2 potong kayu sejenis yang merupakan salib. Dengan ukuran sekurang-kurangnya 0,05 meter x 0,05 meter x 0,7 meter dan pada bagian atas yang muncul di atas tanah dicat merah.
  • Tugu dari batu bata atau batako yang dilapisi dengan semen atau beton yang besarnya sekurang-kurangnya 0,30 meter x 0,30 meter dari tinggi sekurang-kurangnya 0,60 meter. Berdiri di atas batu dasar yang dimasukkan ke dalam tanah sekurang-kurangnya berukuran 0,70 meter x 0,70 meter x 0,40 meter.
  • Pipa paralon yang diisi dengan beton dengan panjang sekurang-kurangnya 1,5 meter dan diameter sekurang-kurangnya 10 centimeter. Dimasukkan ke dalam tanah 1 meter dan yang muncul di atas tanah diberi cat merah.

Namun, apabila ada perbedaan bentuk dan ukuran tanda-tanda batas tanah sebagaimana ketentuan-ketentuan di atas karena menyesuaikan dengan kondisi di lokasi, maka ditentukan dengan keputusan Kepala Kantor Pertanahan.

sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan