Mana Lebih Menguntungkan, Investasi Tanah atau Rumah?

Ada banyak jenis investasi mulai dari jangka pendek hingga panjang, salah satunya bidang properti. Namun, berinvestasi di bidang properti seringkali dianggap sebagai sesuatu yang mahal dan hanya menjadi bisnis bagi orang kaya.

Jika memiliki modal yang cukup, tidak ada salahnya jika mencoba memulai investasi di bidang properti. Sebagai contoh, membeli sebuah rumah yang fungsinya tak hanya dijadikan tempat tinggal, tapi juga sebagai aset dan investasi. Saat beberapa tahun lagi akan dijual, harganya akan cenderung jauh lebih tinggi ketimbang saat membelinya. 

Jenis investasi bidang properti pun bermacam-macam, dua di antaranya rumah tapak atau landed house dan tanah. Dari kedua jenis properti tersebut, manakah yang lebih menguntungkan?

sumber: mashvisor.com

Investasi Tanah

Direktur Eksekutif Pusat Studi Properti Indonesia (PSPI) Panangian Simanungkalit menjelaskan, baik tanah maupun rumah memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dia mencontohkan, harga tanah di lokasi sunrise bisa mengalami kenaikan 10-11 persen setiap tahun.

Selain itu, berinvestasi tanah tidak perlu mengeluarkan biaya untuk membangun dan jauh lebih murah ketimbang rumah. Namun, kekurangan dari investasi tanah adalah harus terus membayar pajak dan membuat pembatas atau patok seperti pagar agar tidak dirampas orang.

Tanah juga tidak memiliki penghasilan, bahkan minus, karena tidak ada bangunan di atasnya yang bisa dimanfaatkan.

“Dan juga ada unsur spekulasi karena kita tidak bisa memperkirakan prospek tanah,” ujar Panangian.

Membeli tanah pun memiliki beberapa kekurangan, yaitu harus membayar secara cash (tunai). Walaupun membeli tanah dengan pengembang, biasanya juga harus dibayar secara tunai keras.

Investasi Rumah

Sementara, rumah memiliki beberapa keuntungan ketimbang tanah, yakni bisa disewakan dan menjadi sumber penghasilan. Hal ini disebabkan sudah ada bangunan di atas tanah untuk dijadikan tempat tinggal oleh penyewa.

Di sisi lain, kekurangan berinvestasi rumah adalah sulit untuk mencari penyewa, apalagi di lokasi yang fasilitasnya terbatas. Misalnya, tidak ada pusat perbelanjaan, perguruan tinggi, rumah sakit, dan masih banyak lagi.

Namun sejatinya, berinvestasi rumah dinilai menguntungkan jika seseorang menyewakan kepada orang lain. Contohnya, membeli rumah seharga Rp 500 juta dengan down payment 10 persen atau seharga Rp 50 juta, lalu menyewakannya kepada orang lain dengan cicilan Rp 4,5 juta per bulan.

Menurut Panangian, hal itu merupakan smart-investment karena cicilan rumah dibayarkan oleh orang lain, sedangkan keseluruhan aset yang dimiliki akan tetap menjadi milik si empunya rumah. Panangian mengatakan, hal serupa juga berlaku bagi hunian vertikal atau apartemen dan rumah kontrakan.

“Nah, itu sama juga dengan smart-investment, karena kamu menggunakan uang orang lain demi kepentingan kamu,” lanjutnya.

Rumah yang dicicil pembayarannya kepada pengembang, rumah kontrakan, serta apartemen merupakan investasi yang tepat bagi generasi milenial. Sebab, modal yang dikeluarkan sangat sedikit bagi ketiga jenis properti tersebut dan 15 tahun kemudian dapat merasakan keuntungannya.

Meski begitu, kenaikan harga rumah dibandingkan tanah tidak terlalu jauh atau hanya berkisar 1-2 persen di atas tanah.

Untuk lokasi rumah dan tanah di Jabodetabek, pertumbuhan harga paling tinggi berada di Tangerang. Panangian mengatakan, kawasan tersebut diuntungkan karena sangat banyak pengembang yang membangun kota skala besar dengan kelengkapan fasilitas.

Mengapa bukan DKI Jakarta yang notabene merupakan ibu kota Indonesia? Dia beralasan, DKI Jakarta sudah membangun banyak fasilitas publik seperti mal atau pusat perbelanjaan. Dari pembangunan itu, banyak warganya mengalami gusuran sehingga berpindah ke daerah Tangerang Selatan.

“Pembangunan mal biasanya menggusur banyak kawasan, kan? Terus orang yang digusur itu pindah ke Serpong, Tangerang,” tambah Panangian.

Sejatinya, berinvestasi rumah akan sangat menjanjikan jika lokasi di sekitarnya berada di kawasan padat. Contohnya, daerah tersebut dekat dengan banyak pabrik, universitas, gedung pemerintah, serta mal yang tentunya bisa banyak menyerap tenaga kerja.

Para tenaga kerja tersebut, tentu saja, membutuhkan hunian. Inilah pangsa pasar yang terus meningkat dari waktu ke waktu.

sumber: kompas.com

Tinggalkan Balasan