Pandemi, Lokasi Kini Bukan Lagi Pertimbangan Nomor Satu dalam Memilih Properti

HousingEstate, Jakarta – Lokasi, lokasi, dan lokasi. Pakem yang selama ini menjadi patokan memilih properti itu barangkali bakal merosot daya pikatnya. 

Pandemi Covid-19 melumerkan arti penting lokasi. Sebelum pandemi, lokasi menjadi perhatian utama karena setiap hari orang harus ke kantor untuk bekerja.

Perumahan yang akses dan moda transportasinya mudah, seperti dekat jalan tol, stasiun, atau halte busway menjadi favorit. Tapi sejak pandemi, dan orang harus bekerja dari rumah (work from home/WFH), lokasi tidak menjadi pertimbangan utama.

sumber: marketwatch.com

Dengan jaringan internet, orang dapat bekerja dari manapun. Bisa dari rumah, kafe, gunung, hotel, kebun, dan sebagainya. Bekerja tidak lagi dibatasi oleh tempat. Sejauh terkoneksi dengan internet, orang bisa berkegiatan. Karena itu, bekerja menjadi lebih fleksibel. Kehadiran fisik di kantor pun bukan harga mati.

Orang ke kantor kalau benar-benar penting, misalnya ada pekerjaan yang tidak bisa diselesaikan dari rumah. Dalam sepekan, cukup satu atau dua kali datang. Hal ini tentu menekan biaya transportasi, waktu, dan energi.

Banyak yang memprediksi kebiasaan baru itu akan terus berlangsung sekalipun pandemi berakhir. Tren ini sulit dibendung karena orang sudah hidup di dunia maya. Penggunaan internet di Indonesia sudah sedemikian luas.

Apalagi, lalu lintas di kota besar terutama di Jakarta dan sekitarnya sangat crowded. Bekerja dari rumah pun menjadi alternatif  menarik. Karena itu, meeting online akan meningkat dan aplikasi yang dapat digunakan beragam.

WFH membuat kebutuhan ruang perkantoran merosot, sehingga banyak perusahaan mengecilkan ukuran kantornya. Mereka juga melakukan relokasi ke kawasan-kawasan sekunder dekat perumahan, atau di dalam kawasan kota baru yang fasilitasnya lengkap.

Berkantor dekat rumah lebih efisien dan mengurangi kontak fisik dengan orang lain. Pilihannya bisa rumah, ruko, atau mini office building.

Berkantor di rumah dengan berkantor di pusat kota tidak ada bedanya karena fasilitas pendukungnya sama. Bahkan, bekerja di rumah lebih nyaman, lingkungannya asri, lebih ekonomis, dan kemacetannya tidak separah menuju pusat kota.

Selain perkantoran, tren WFH mendorong masyarakat mencari perumahan yang lingkungannya bagus, misalnya kawasannya asri, banyak taman, dan ramah pejalan kaki. Hunian seperti ini membuat orang lebih nyaman bekerja di rumah.

Kalau jenuh, bisa jeda sejenak keluar rumah menikmati lingkungan indah, udara bersih, atau kongko di kafe di dalam perumahan. Karena itu, fasilitas pendukung di dalam perumahan sangat penting. Perumahan dengan harga terjangkau yang fasilitasnya komplet bakal dicari konsumen.

Lokasi bukan lagi isu seksi untuk berjualan. Konsep pengembangan yang menarik dan sesuai kebutuhan sekarang jauh lebih penting bagi konsumen, misalnya sekolah, sport club, area komersial, water park, pasar modern, dan taman.

Tata ruang rumah kemungkinan juga akan berubah, misalnya rumah menengah atas akan dilengkapi ruang multifungsi yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja atau meeting online. Desain seperti itu sudah ada di beberapa perumahan menengah atas, yang sebelum pandemi belum menjadi kebutuhan penting.

Tinggalkan Balasan