Wajib Tahu, Ini 5 Modus Penipuan di Sektor Properti yang Harus Diwaspadai

KOMPAS.com – Bagi banyak orang, pembelian properti boleh jadi merupakan transaksi termahal yang dilakukan seumur hidup. Untuk membeli satu unit rumah setiap orang bisa mengeluarkan biaya ratusan juta hingga miliaran rupiah. Terlebih jika membelinya secara kredit, maka beban biayanya tentu akan jauh lebih mahal lagi.

Masalahnya, terdapat banyak sekali modus penipuan dalam bisnis atau jual beli properti. Para penipu biasanya akan memanfaatkan ketidaktahuan atau mimimnya pengetahuan seseorang dalam hal inofrmasi membeli rumah.

Praktik penipuan properti datang dalam berbagai bentuk modus. Jika Anda memiliki pengetahuan tentang informasi dunia properti, akan terhindar menjadi korban penipuan. Oleh karena itu, selalu waspada dan perhatikan modus-modus praktik penipuan berikut ini:

sumber: housing.com

Peretasan Email
Modus penipuan pada awalnya mungkin sulit untuk dideteksi, karena sepertinya semuanya berjalan dengan normal. Biasanya, penipu berhasil meretas akun email atau surat elektronik agen properti dan memantau komunikasi apapun yang dilakukan dengan pembeli selama beberapa minggu.

Selama waktu tersebut, mereka mempelajari cara agen properti berbicara dan mulai memahami semua detail transaksi dengan pembeli. Saat tanggal waktu transaksi semakin dekat, barulah para penipu itu mengirimkan email kepada pembeli tentang tanggal batas transaksi uang muka atau down payment (DP), misalnya, dan menentukan alamat bank rekening tujuan.

Masalahnya, Anda atau pembeli akan sangat sulit mengidentifikasi bahwa email itu berasal dari penipu karena alamat email merupakan milik agen properti yang Anda gunakan jasanya. Sebaliknya, Anda otomatis akan percaya begitu saja, karena setelah membayar DP, Anda akan melakukan serah terima kunci dan menempati rumah impian tersebut.

Untuk melindungi dari penipuan tersebut, salah satu cara adalah mengonfirmasi agen properti terlebih dahulu melalui nomor kontak yang Anda miliki. Atau jika tidak, Anda dapat bersepakat dengan agen properti saat bertemu untuk melakukan transaksi apapun, termasuk DP secara tatap muka.

Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan satu sama lain dalam hal pembelian rumah.

Modus Jual dan Sewa Properti Murah
Tidak hanya mereka yang melakukan jual beli berada dalam bahaya, para penyewa pun bisa menjadi target utama lainnya, terutama kaum muda yang belum pernah menyewa properti. Dalam penipuan ini, iklan ditempatkan secara online melalui saluran informal seperti pasar Facebook atau marketplace lainnya.

Harganya biasanya tidak masuk akal, jauh lebih rendah daripada harga rumah normal pada umumnya. Alasan mereka menjual murah karena sedang butuh uang.

Setelah lebih jauh Anda berkomunikasi, para penipu ini memiliki banyak cara dan modus selanjutnya, misalnya menolak untuk bertemu di rumah yang akan dijual karena alasan tertentu. Akhirnya, Anda harus bertemu dan melakukan serah terima kunci di tempat lain.

Mereka akan mendesak agar setuju untuk membayar setoran secara tunai atau mentransfernya, dan mereka mungkin memberi Anda satu set kunci. Saat Anda baru menyadari bahwa kuncinya tidak berfungsi, penipu tersebut pun sudah menghilang.

Meskipun cukup mudah untuk dihindari, penipuan ini sekali lagi memangsa mereka yang tidak terbiasa dengan proses pembelian rumah dan yang dapat dengan mudah tergesa-gesa untuk membuat keputusan segera.

Karenanya saat mencari rumah, gunakanlah saluran tepercaya dan jangan pernah membayar deposit tanpa melihat tempatnya terlebih dahulu dan menandatangani perjanjian apa pun.

Rumah Tak Sesuai
Para pembeli pertama kali tentu akan minim pengetahuan bagaimana caranya membeli dan menemukan rumah yang sesuai. Biasanya mereka hanya terpesona melihat tampak permukaan dari rumah yang akan dibelinya itu dan melupakan bagian penting pemeriksaan dan pengecekan mendalam terhadap rumah tersebut.

Masalahnya, penjual rumah melakukan sejumlah persiapan matang terhadap rumah yang akan dijualnya sebelum ditawarkan ke banyak orang. Persiapan itu bisa jadi dilakukan dengan cara menutupi kekurangan rumah tersebut seperti struktur bangunan yang rapuh, tembok yang pecah ditutupi dengan cara pengecetan ulang rumah.

Selanjutnya, terdapat juga intalasi listrik dan saluran air yang biasanya luput dari pemeriksaan. Instalasi kabel listrik yang sudah tua tentu saja akan sangat membahayakan Anda sebagai calon pembeli. Karenanya, ini juga merupakan modus penipuan yang Anda harus ketahui dan antisipasi.

Jika Anda tidak tahu cara memeriksa rumah, maka gunakanlah agen properti atau profesional untuk mengecek kondisi rumah tersebut. Terpenting, jangan pernah membeli rumah tanpa pemeriksaan rumah terlebih dahulu.

Transfer Uang ke Penipu
Pada era digital, menjalankan bisnis di seluruh dunia adalah hal yang sangat mungkin dilakukan. Hal ini berlaku dalam dunia properti, di mana investor dan mereka yang ingin memulai hidup baru di negara baru dapat menutup kesepakatan dari jarak ribuan mil.

Namun, selama tahun 2017 tercatat bahwa terdapat US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14,4 triliun penipuan properti di dunia yang uangnya ditransfer kepada akun penipu.

Hindari penipuan ini dengan memperhatikan email yang Anda terima dan bekerja sama dengan tim di lapangan. Email yang dipenuhi dengan kesalahan ejaan dan mendesak Anda untuk membuat keputusan yang terburu-buru harus segera diwaspadai.

Jangan pernah mengirim uang tanpa terlebih dahulu berbicara melalui telepon dengan pihak yang terlibat dan jika terdapat hal yang mencurigakan maka simpanlah uang Anda.

Profesional Properti Palsu
Penipu yang lebih percaya diri akan mengenal Anda secara langsung, menyamar sebagai pengacara atau makelar properti. Profesional palsu ini akan mencoba meminta Anda mengirim dana ke akun mereka, mengklaim akan menahannya sampai transaksi selesai. Pada kenyataannya, setelah uang tunai dikirim, Anda justru akan kehilangan uang dan itu adalah salah satu bentuk modus penipuan.

Pastikan untuk memeriksa kredibilitas dan validitas siapapun yang bekerja dengan Anda selama transaksi properti. Penting diketahui bahwa kebanyakan penipuan sangat memanfaatkan momentum korban yang membuat keputusan secara terburu-buru. Alasannya karena mereka ingin serba cepat dan bisa mendapatkan rumah impiannya tersebut menjadi kenyataan.

Tinggalkan Balasan